Tidak sekali dua kali, teman-temanku mengingatkan aku untuk tidak terlalu dibebani obsesi mengetahui kesejatian syahadat yang mereka sebut sebagai ”tidak lazim” seperti itu. Aku sendiri heran dengan sikap teman-temanku.
” Islam itu tidak sulit,” kata teman-teman, ” cukup mengucapkan dua kalimat syahadat, jadilah kamu Islam. Ngapain repot-repot seperti itu.”
”
Terimakasih,” sahutku, ” silakan kalian tetap berada pada keyakinan
”standar”seperti itu. Tetapi jika aku merasakan kegelisahan, aku harus
mencari jawaban yang menyebabkan kegelisahan itu sirna dari hatiku.
Mungkin kalian tidak merasa gelisah. Maka bersyukurlah. Jadi, biarkan
aku mencari obat kegelisahanku, karena aku yakin akan menemukan yang aku
cari.”
” Kapan ?”
” Jika waktu yang ditentukan oleh Tuhan sudah tiba,” jawabku.
Banyak
yang menertawakan sikapku itu. Tetapi aku terus mencari. Nyatanya, para
Kyai, Ustad dan Ulama yang aku temui dalam perjalanan pencarianku belum
ada yang mampu memberikan jawaban yang menyebabkan gelisahku terobati.
Aku selalu menanyakan kepada mereka bagaimana cara syahadat yang sebenarnya itu ? Anehnya, aku selalu mendapat jawaban ya seperti yang sudah kamu lakukan itu. Lalu jika aku kejar dengan pertanyaan berikutnya : bukankah itu baru pengakuan persaksian yang diucapkan oleh mulutku ? Mereka menjawab : yang membuat pengakuan persaksian memang mulut bukan selain mulut. Lalu kukejar lagi : atas dasar apa mulut membuat pengakuan persaksian
? Sampai di sini, biasanya para Kyai, Ustad dan Ulama yang aku temui
akan terbelah. Ada yang tersinggung dan menghujatku. Ada yang secara
jujur mengakui bahwa pengetahuannya belum sampai untuk menjawab
pertanyaanku.
Aku
sangat menghormati mereka yang secara jujur mengakui kekurangannya. Dan
biasanya aku tetap menjalin silaturahim dengan mereka, karena aku pun
harus mengakui mereka adalah orang-orang yang hebat. Tidak banyak
jumlahnya orang yang berani membuat pengakuan secara jujur seperti itu.
Sebenarnya,
kepada yang tersinggung dan menghujat pun aku tetap menaruh hormat.
Kerap aku ingin menjalin silaturahmi dengan mereka. Tetapi tidak jarang
mereka sengaja menghindar dengan berbagai cara. Aku menerima semua itu
dengan hati lapang, karena dengan begitu sebenarnya Allah sedang
menunjukkan kepadaku tentang manusia secara utuh. Bahkan aku pun
kemudian mencatat baik-baik dalam ingatanku : jujurlah pada dirimu sendiri.
Jika
kamu tidak tahu, katakanlah apa adanya, sebab dalam perjalanan mencari
Kebenaran, kamu harus memulainya dengan kejujuranmu. Lebih-lebih jika
kamu berhadapan dengan orang lain. Siapa pun adanya dia, tetaplah orang
lain adalah orang-orang terhormat yang harus kamu muliakan.
Lalu kucatat lagi : rendahkan egomu,
karena dalam perjalanan mencari Kebenaran kamu akan mendapatkan banyak
ujian dan cobaan. Kebenaran itu akan datang melalui siapa saja. Melalui
para Kyai, Ustad, Ulama dan tokoh agama. Tetapi bisa juga datang dari
seorang penyapu jalan, mungkin seorang gelandangan, karena Sang
Kebenaranakan menggerakkan siapa pun yang dipercaya untuk
mengantarkannya.
Setelah itu : merdekakan dirimu dari segala bentuk penjajahan pemikiran dan kehendak. Dan teruslah berusaha mencari apa yang ingin kamu ketahui.
Hanya
itu bekal perjalananku selama bertahun-tahun. Aku yakin, Tuhan akan
memenuhi janjiNya. Ini bukan sekedar upayaku menghibur diri sendiri,
melainkan Tuhan sendiri yang memberitahukan kepadaku : barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti akan datang (QS 29:5). Aku juga ingat pesan Kakek almarhum, segala sesuatu sudah ditentukan waktunya, dan yang mengetahui kapan waktu itu tiba hanya Tuhan. Tetapi aku harus terus bekerja, jangan sampai berhenti.
Di sinilah aku mulai mengenal dua wilayah yang masing-masing wilayah itu tidak akan saling tertukar. Aku menyebutnya sebagai wilayah ikhtiar atau usaha yang menjadi milik dan kewajiban manusia, dan wilayah hasil
atau ijabah yang menjadi milik dan kekuasaan Tuhan. Kesadaran ini
menumbuhkan keyakinanku untuk tidak pernah berhenti berusaha melakukan
ihtiar yang sungguh-sungguh. Aku memahami ini sebagai kesejatian jihadunnafs, yakni berjuang menundukkan rasa malas dan rasa bosan dengan sabar dan tawakal.
Rupanya,
inilah salah satu pengajaran Tuhan yang sangat berguna bagiku, sebelum
aku memasuki wilayahNya yang sakral. Tuhan lebih dahulu membentuk diriku
menjadi seorang fakir yang sempurna, melalui kesadaranku terhadap
diriku sendiri. Seorang fakir adalah dia yang amat membutuhkan, atau
seorang yang sangat berhajat akan pertolongan. Jika fakir kepada Tuhan,
maka artinya, dia adalah orang yang amat membutuhkan Tuhan, atau seorang
yang berhajat pada pertolongan Tuhan.
Aku
jadi merasa trenyuh sendiri. Tuhan lebih dulu menjadikan aku fakir
kepadaNya dengan membimbingku memasuki wilayah kodrati manusia yang
harus senantiasa berusaha untukNya dan berharap kepadaNya. Maka aku
catat ini baik-baik dalam diriku, kelak aku akan menamai diriku sebagai
al-faqir Ilallah, karena Dia yang menyebabkan aku tidak pernah berhenti
mencari.
Jika pada akhirnya aku bertemu dengan orang yang dapat membimbingku untuk bersyahadat kepadaNya, maka itu sama sekali bukan sebuah kebetulan. Itu adalah rencanaNya yang agung, karena dia yang kemudian membimbing aku bertemu dengan Guru Sejatiku, benar-benar kutemukan.
Bagaimana aku dapat bertemu ? Di mana ?*****
diambil dari:http://www.kompasiana.com
No comments:
Post a Comment